Belanja perlengkapan bayi.. yippiee!

Ini yang paling ditunggu-tunggu. Setelah lewat 7 bulan, langsung semangat untuk beli ini-itu. Seru melihat berbagai warna, motif, dan ukuran untuk si Baby Pineapple.

week 31

Untuk keperluan bayi, saya belanja di empat tempat:

  1. Tanah Abang (Toko Sinar Rezeki, Blok A Lt. B1 Los C No. 10)

Kalau ke sini sepertinya khusus buat belanja baju bayi karena ada berbagai merk baju dengan harga yang beragam dan lebih murah. Untuk barang lainnya tidak semenarik Audrey.

  1. Jatinegara (beberapa toko, lupa namanya)

Saat ke sini hanya mampir ke dua toko, karena banyak yang tutup. Di bagian bawah gedung banyak toko yang jual perlengkapan bayi secara grosiran. Tapi kalau mau mencari pakaian dengan motif lucu dan kualitas bahan yang super duper bagus, bukan di sini tempatnya. Dari segi harga, toko yang saya datangi lebih mahal dibanding Sinar Rezeki dan Audrey.

  1. ITC Cempaka Mas (Toko Audrey, Lantai 3 Blok F).

Toko ini sering jadi rekomendasi karena harganya yang miring. Pas ke sana, tokonya sangat rame. Sesampainya di toko, mbak-mbak penjaga langsung nyamperin dan memberi daftar perlengkapan untuk memudahkan kita jika belum punya list dan belum tau mau beli apa. Di sini ada berbagai motif lucu dari berbagai merek. Tidak sempat membandingkan harga di sini dengan Sinar Rezeki, karena hanya sebentar untuk beli kekurangan barang. Tapi dari segi koleksi barang, memang di sini apa aja ada.

  1. Pasar Pramuka

Perlengkapan tidur

  1. Portable bed – kasur sudah dilengkapi bantal, guling, kelambu. Awalnya ingin pakai baby box karena ingin membiasakan anak tidur sendiri, tapi dibatalkan. Berdasarkan pengalaman mamak-mamak lain bahwa akan lebih mudah untuk menyusui bayi bila tidur sama orangtuanya, dan juga lebih ‘ngeh’ kalau ngompol dan nangis di malam hari. Memutuskan beli bed ini karena bentuknya yang lucu, mirip tenda kemping dan lebih praktis kalau mau taruh bayi di lantai. (Tanah Abang – Rp202.000, merk: Goji Baby)
  2. Perlak ukuran 60×90 cm – Bisa dipakai bolak-balik. (Tanah abang – Rp69.000, merk: Super Baby)
  3. Bedong – Bahan bedong motif yang berisi 5 pcs ini halus banget, dan bisa jadi selimut juga. Dan baru tahu ternyata 5 bedong doang engga akan cukup, dan akhirnya dapat lungsuran. So niat mau beli lagi diurungkan. Alhamdulillah! (Tanah Abang – Rp154.000, merk: Classic Cotton)
  4. Selimut with hood – Bahannya seperti bahan polar. Di bagian kepala ada gambar karakter hewan, dan fyi, diskusi milih selimut inilah yang paling lama. Si Papap pengen gambar ayam di kepalanya, si Bunbun pengen gambar bebek. Dan, akhirnya si ayamlah yang menang (sssttt….. menurut saya gambarnya itu ga mirip ayam loh haha)

Pakaian dan aksesorisnya

  1. Popok kain – Bahan popok sama dengan bahan bedong. Saya kira beli setengah lusin akan cukup, ternyata perhitungan salah saudara-saudara. Menurut kakak, dalam sehari bayi bisa pipip 6-7x. Haha.. Tapi untungnya engga perlu beli lagi, karena dapat lungsuran. Memang rencananya pemakaian popok mau di pagi-siang hari di bulan pertama makanya beli sedikit, dan malam dipakaikan popok sekali pakai. Pada bulan-bulan berikutnya lihat kondisi nanti apakah akan pakai popok sekali pakai, atau clodi. (Tanah Abang – Rp43.000/setengah lusin, merk: Classic Cotton).
  2. Clodi – Saat beli ini belum terlalu familiar tentang cara pakai dan kegunaannya, saya pikir engga ada salahnya coba beli 1 dulu. (Tanah Abang – Rp63.000 (clodi + 2 insert), merk: Babyland)
  3. Baju Kutung (tanpa lengan) – Karena masih meraba-raba ukuran bayi, akhirnya memutuskan beli baju dengan berbagai ukuran mulai dari 0-3, 3-6 bulan, M, dan L dengan jumlah yang tidak terlalu banyak. Untuk baju kutung, saya beli ukuran L sebanyak 3 pcs. Bahan baju halus dan tebal. (Tanah Abang – Rp.43.000/3pcs, merk: Libby).
  4. Baju Lengan Pendek – Beli ukuran 3-6. (Tanah Abang – Rp42.500/3pcs, merk: Libby).
  5. Baju Lengan Panjang – Beli merek Velvet ukuran 3-6, bahan lebih tebal dari Libby, tapi tingkat kehalusan sama. (Tanah Abang – Rp61.500/3 pcs)
  6. Jumper Panjang bertopi – Ukuran 6-9 (Tanah Abang – Rp30.000/1pc, merk: Libby).
  7. Jumper Pendek – Ukuran 6-9 (Tanah Abang – Rp22.000/1pc, merk: Libby).
  8. Kaos singlet – Merk: Finka. Awal beli di Tanah Abang setengah lusin (Rp37.000), karena khawatir kurang beli setengah lusin lagi di Jatinegara (Rp40.000).
  9. Celana Pop – Ukuran 3-6. Awalnya hanya beli 3 pcs saja di Tanah Abang, tapi pas tanya-tanya lagi ke kakak, ternyata akan kurang. Akhirnya beli setengah lusin lagi di Jatinegara dengan merk yang sama: Libby. Dari segi harga, Tanah Abang (Rp31.000/3 pcs) jauh lebih murah dibandingkan Jatinegara (Rp75.000/6pcs).
  10. Celana Panjang buka kaki – Ukuran 3-6. (Tanah Abang – Rp28.500, merk: Libby)
  11. Sarung tangan dan kaki – Beli 3 set. Motifnya tetap dicari yang sama dengan baju dan celana. Haha. (Tanah abang – Rp9500/set, merk: Libby).
  12. Topi – Beli 2 biji, motif (Rp12.000) dan polos (Rp11.000). (Tanah Abang, merk: Libby).
  13. Kaos Kaki motif – Motif lucu, dengan boneka karakter hewan yang nempel di depan kaos kaki, bunyi “krincing-krincing” kalo digerakkan, dan ada anti slipnya juga, Tapi dipikir-pikir, sepertinya engga guna juga ada anti slip untuk new born, secara belum bisa jalan. *ngikik (Jatinegara – Rp50.000/3pcs)
  14. Kaos Kaki bentuk sepatu – Beli cuma karena melihat bentuknya yang lucu.. Haha (Jatinegara – Rp30.000/3pcs)
  15. Legging – Beli di ITC Cempaka Mas, motifnya lucu-lucu. (Rp60.000/4pcs)
  16. Gurita – Lungsuran. Memang engga mau beli, karena masih kontroversi soal bagus engganya penggunaan gurita untuk pernafasan bayi. Tapi menurut beberapa orang katanya at least pakai sampai tali pusat lepas.

Perlengkapan Nursery & Breast Feeding

  1. SlabberIni bisa multifungsi kali yah? Untuk new born, bisa dipakaikan tiap kali menyusui supaya baju engga basah. Nanti setelah mulai masuk tahap MPASI, bisa dipakai juga biar makanannya engga kena baju.
  2. Wash cloth (sapu tangan handuk) – Menurut si mbak Tanah Abang, wash cloth bisa dipakai buat melap susu di mulut bayi kalau belepotan, tapi tidak saya beli karena saya pikir masih bisa melap pakai tisu atau sapu tangan milik papapnya si baby. Tapi setelah ngobrol dengan kakak, disarankan punya biar engga ribet nantinya tiap menyusui. Akhirnya beli juga pas ke Jatinegara, padahal lebih murah yang di Tanah Abang dan motifnya lebih lucu. *hiks* (Rp40.000/4pcs).
  3. Breast padBeli merk Pigeon, isi 10. (Tanah Abang, Rp23.000).
  4. Botol susu – Beli dalam rangka “jaga-jaga”. Kalau engga terpakai ya bersyukur, berarti bunbunnya si bayi sukses ngasih ASI langsung dari puting (Amin). Beli merk Pigeon yang sudah BPA free. BPA free biasanya ditandai dengan label PP, sedangkan yang belum free ada label PC. Beli 2 ukuran di Jatinegara: 160 ml (Rp.65.000) dan 240 ml (Rp75.000).
  5. Sikat botol – (Jatinegara, Rp20.000)

Perlengkapan Mandi & Toiletries

  1. Handuk – Beli 1 pc di Tanah Abang (Rp35.000, merk: Dixon)
  2. Waslap handuk – Beli 2, bentuk kotak dan tangan. (Tanah Abang, Rp7.500/pc)
  3. Toiletries set – Beli paket kecil merek Cusson, isinya: shampoo, oil, powder, bar soap, cotton buds. Sengaja beli set kecil, karena belum tahu nantinya merek ini akan cocok di kulit bayi atau engga. Sayang juga kan kalo sudah beli yang berukuran besar tapi engga cocok di kulit. (Tanah Abang, Rp19.500).
  4. Baby cologne – Biar bayinya makin harum semerbak. (ITC, Rp13.500, merk: Pigeon)
  5. Minyak Telon – cap Nyonya Meneer. Katanya sih ini yang paling bagus. (Tanah Abang, Rp23.000)
  6. Tempat bedak – Beli tempat bedak dengan 2 wadah, untuk wajah dan pantat. (Jatinegara, Rp25.000)
  7. Jaring mandi – Dipasang di bak mandi bayi, biar bayi ga merosot. Untuk baknya sendiri belum dibeli, rencana nanti saja di toko dekat rumah. (ITC, Rp45.000).
  8. Kapas kiloan – beli di Pasar Pramuka, lalu bulet2in sendiri dan disimpan di wadah tertutup. Harga kapas kiloan jauh lebih murah dibandingkan beli kapas bulatan. Fyi, gulungan kapasnya gede loh, kayanya ga bakal habis sampai si baby umur setahun 😛 (Pasar Pramuka, Rp32.000/kilo).

Others

  1. Tas bayi – Awalnya ga berniat untuk beli tas bayi, karena ada tas lain yang bisa dipakai (baca: tas nge-gym). Tapi dipikir-pikir, kalo si bayi lagi diajak ke dokter untuk imunisasi, kok aneh juga pakai tas nge-gym haha.. Yoweis, si bunbun mengalah pada konsumerisme perlengkapan bayi, beli tas bermotif buat lucu-lucuan, dan untungnya lagi ada diskon. (ITC, Rp141.400, merk: Little Fun).
  2. Gendongan bayi – Barang ini yang paling membingungkan karena banyak modelnya. Sebenarnya lebih suka lihat gendongan jenis moby wrap, karena sepertinya lebih kencang, aman dan lucu aja seperti bayi kangguru. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, apa bisa new born pakai itu? So, akhirnya memutuskan beli gendongan jenis ring sling.
  3. Sleek liquid Detergent – Untuk mencuci pakaian bayi (ITC, Rp16.000).
  4. Ember dengan tutup – Untuk popok kotor (Pasar Pulogadung, Rp12.000)
  5. Kain Kasa – Apotik dekat rumah, lupa harganya. Untuk ditempel di tali pusat yang belum puput.
  6. Dettol – Untuk merendam pakaian yang baru dibeli. Atas saran kakak, sebaiknya saat mencuci, pakaian tidak dipakaikan pewangi karena akan merangsang bayi hingga kulit kuning.
  7. Jemuran lingkar ­– (Jatinegara, Rp30.000)
  8. Gantungan baju kecil – (Jatinegara, Rp10.000)

Perlengkapan Ibu

  1. Maternity diaper – beli merek Monalisa isi 10, buat jaga-jaga. Belum tau nanti akan cocok atau ngga di kulit, kalau engga, ya pakai merk pembalut yang biasa dipakai saja. (ITC, Rp25.000).
  2. Stagen – Lungsuran
  3. Baju berkancing depan – biar gampang menyusui (ITC dan Jatinegara)
  4. Bra Menyusui – beli 2 pcs masing-masing di Jatinegara dan ITC (Rp35.000)
  5. Celana dalam hamil – merk: Sorex. Sebelumnya beli di ITC (Rp50.000/3 pcs), lalu beli lagi di Tanah Abang (Rp48.000/3 pcs)

Yang belum dibeli (will be updated soon):

  1. Bak mandi bayi – masih memilih-milih model baknya. Haha
  2. Pompa ASI dan Sterilizer – menunggu info kakak soal harga distributor, dan masuk sebagai kebutuhan ‘sekunder’ dalam list. Jadi masih bisa nanti belinya sesuai kondisi.
  3. Nipple cream – baca berbagai review, nipple cream Mothercare paling yahud, tapi belum ada waktu ke sana. Sempat tanya di ITC, merk pigeon harganya Rp165.000, katanya bagus juga.
  4. Baby cream – melihat kondisi kulit bayinya nanti kalau memang terjadi ruam popok.
  5. Dispo diaper untuk new born.

Patokan saya sebelum belanja:

  • Akan memakai popok kain, dispo diaper atau clodi?

Karena ini akan mempengaruhi jumlah pembelian popok kain, baju dan bedong. Kalau due date jatuh di musim hujan, sebaiknya jumlah pembelian popok kain dilebihkan.

  • Utamakan hal-hal yang akan dipakai oleh anak terlebih dahulu

Sterilizer? Stroller? Bouncer? Feeding set? Taruh barang-barang “sekunder” ini di urutan bawah daftar belanja. Belilah dahulu barang yang akan ‘nempel’ di badan anak: popok, baju, celana pop, sarung tangan & kaki, bedong, topi. Then work your list from there. It’ll be easier.

  • Ukuran baju New Born tidak diutamakan

Kita engga tau nanti anak kita akan sebesar apa pas lahir, jadi sebaiknya beli baju dengan ukuran yang beraneka ragam mulai dari 0-3, 3-6, 6-9, atau mulai dari ukuran S. Berdasarkan pengalaman mamak-mamak yang sudah melahirkan, kalau mau aman, stok baju ukuran new born cukup setengah lusin saja, karena BB bayi bisa langsung naik pesat dalam hitungan 2 minggu.

  • Beli toiletries dalam kemasan kecil

Karena kulit anak kita belum tentu cocok dengan merk yang kita beli.

  • Kapas bulat atau kiloan?

Memang kapas bulat harganya jauh lebih mahal dibanding yang kiloan. Tapi tanya ini dulu sebelum beli yang kiloan, “Apakah gue punya waktu dan kesabaran untuk bulet2in kapasnya?”

  • Selalu sedia beragam wadah

Tempat bedak, tempat kapas, tempat sampah, dan ember… semua harus yang ada tutupnya supaya higienis. Sebaiknya toiletries bayi dijadikan dalam satu wadah supaya pas mandiin lebih gampang ambilnya.

Cukup segitu daftar belanjaannya. Semoga bisa jadi referensi buat para calon mamak di luar sana. Cheers! ^_^

One Night Break In A Contemporary Design Hotel: Pullman Jakarta Central Park

Getting a free one-night stay in Pullman Hotel from Skyscanner workshop was an amazing experience. Surprisingly, the incredible breakfast was inclusive. Exciting!

As a five-star hotel, Pullman Jakarta Central Park does not only offer the luxurious of the interior design, but also the contemperary urban art concept. Various paints and installation arts will greet us from lobby to our room.

The Impossible

The Impossible

WP_20141207_055With a contemporary design and intimate atmosphere, the 32 sqm room offers daring view of the city. Perhaps, most interesting is the bathroom concept. It’s an open bathroom with rain shower and located in the middle of the room.

WP_20141206_001

WP_20141206_013

As you can tell, the look is very sleek and cool, and the simplicity of the furniture is also striking. There’s a nice balance between simplicity and stark, probably because of the warm, earth tones. And the bed is so comfortable, especially the pillows. Wish I could bring one home! Haha

WP_20141206_005This Pullman Hotel is also really working the technology in the rooms. There are numerous outlets and iPod docking stations. The LCD TV also functions as the in-room directory. And the WiFi is free and fast.

WP_20141207_006

WP_20141207_011

Downstairs is the Collage Restaurant which serves Western and Eastern food. You may find traditional to international food such as pasta, chicken curry a la India, dimsum, kinds of noodles, and sushi. A happy tummy is guaranteed!

WP_20141207_001

Vienband, si penyelamat ibu hamil!

No, Vienband ini bukanlah seorang superhero yang memakai topeng dan kancut di luar untuk menyelamatkan dunia atau nama band khusus ibu hamil. Vienband adalah semacam media ekstensi dari lingkar pinggang atau pinggul celana.

Selama hamil, sampe sekarang sudah 24 minggu, saya memang belum beli baju hamil. Setelah perut mulai membuncit, sempat berpikir untuk beli baju hamil dan menyempatkan diri ke ITC, tapi baru satu jam keliling udah ngos-ngosan tanpa hasil. Akhirnya, hunting di online shop, eh malah nemu Vienband dengan harga 85.000.

WP_20141204_001Dalam satu kemasan, ada tiga karet dengan ukuran berbeda dan tiga kain panel berwarna hitam, biru dan krem. Sekarang saya masih pakai karet berukuran kecil, dan sudah dicoba di celana jeans. Nyaman karena perut jadi lega, jadi engga perlu beli celana hamil untuk sekarang ini. Yippiee!!

Jangan membayangkan kalau ini perut indah saya, karena gambar ini diambil dari website Vienband.

Jangan membayangkan kalau ini perut indah saya, karena gambar ini diambil dari website Vienband.

Penampakannya di celana saat dipakai seperti foto di atas. Restleting memang jadi terbuka dan harus memakai baju panjang. Tapi memang biasanya kalo hamil lebih enak pakai baju yang agak panjang toh?

Sejauh ini, berat badan belum ada perubahan, dan semoga sampai hamil 9 bulan nanti paha engga melar drastis, jadi masih bisa pake jeans. Haha..

Jerawat vs Tea Tree Oil

Tea Tree Oil merupakan salah satu produk Tea Tree Series paling populer dari The Body Shop. Ukuran botolnya kecil banget, cuma 10 ml. Kandungan Tea Tree-nya sendiri adalah 15%.

WP_20141110_005

Bagi yang pertamakali beli, pasti kesal karena tutup botol susah dibuka. Tutupnya tuh kalau diputar, ya mutar terus, tapi tidak kebuka-buka. Kesabaran diuji lewat tutup botol Tea Tree Oil. Haha.

Nah, cara bukanya adalah tutup ditekan kemudian diputar. Kalau mau ditutup kembali, langsung tutup saja, dan putar untuk mengunci kembali.

Walaupun ulah si tutup botol bikin gemas, justru saya suka sekali tutupnya, semacam love-hate relationship. Kenapa? Karena dengan model tutup seperti itu, Tea Tree Oil tidak mudah tumpah. It’s so travel friendly.

Setelah tutup terbuka, kamu akan melihat bentuk seperti sedotan kecil. Menurut saya, bentuknya sangat berguna agar Tea Tree Oil tidak tumpah saat dituang. Lumayan hemat!

WP_20141110_007

Lalu, bagaimana tekstur dan aroma Tea Tree Oil? Ya, seperti minyak. Haha. Walaupun teksturnya seperti minyak, Tea Tree Oil langsung menyerap pada saat pengaplikasiannya. Aromanya sendiri sangat mirip dengan minyak kayu putih.

Cara pakai:

  1. Cuci muka dengan facial wash kamu
  2. Totol minyak langsung dengan jari ke bagian yang berjerawat saja, atau bisa juga diaplikasikan dengan menggunakan kapas. Ingat, kalau pakai jari langsung, pastikan jarinya bersih yah. Untuk waktu pemakaian, biasanya saya pakai pada malam hari.

Produk yang dijual seharga 119.000 ini bekerja sebagai anti-bakteria sehingga mampu menghilangkan jerawat tuntas sampai ke akarnya. Hasilnya memang tidak langsung kempes, mungkin butuh sekitar 3-5 hari baru benar-benar hilang. Hal ini dikarenakan kandungan bahan alaminya.

Repurchase: Indeed!

Para Penghuni Pulau Palambak Besar, Aceh

Adalah seorang Nenek berusia sekitar 70 tahunan, yang merupakan salah satu dari tiga orang yang mengurusi bungalow di Pulau Palambak Besar. Neneklah yang dipercaya oleh pemilik Bungalow untuk mengurus keuangan. Pada satu malam, dengan mata berkaca-kaca, Nenek bercerita tentang suaminya yang suka main perempuan sehingga memilih untuk meninggalkan sang suami, dan berani menyebrang dari Kota Singkil ke pulau demi sesuap nasi.

1

Nenek, Nat, Dina

Selain Nenek, ada pula Rina, gadis cantik berusia 16 tahun (sekarang mungkin 18 tahun) asal Singkil yang lebih memilih bekerja di Pulau Palambak karena konflik dengan ibunya. “Ah, masa puber,” pikir saya. Dibandingkan dengan Nenek, saya lebih banyak melakukan interaksi dengan Rina. Jika kamu pernah mengunjungi Pulau Palambak dan memesan menu di restoran bungalow tersebut, Rina lah kokinya. Masakannya enak loh! Dan jangan abaikan ornamen-ornamen kecil yang menghiasi restoran tersebut, gadis itu pula yang mengaturnya. Ya, tangannya memang terampil. Selain itu, dia juga jago menggambar, dan ketika di sana, dia membuatkan tato pada lengan teman saya dengan spidol. Saya sempat menyarankan dia untuk mencari henna bila sedang ke Kota Singkil, dan membuat tato pada turis yang sedang berkunjung, seperti di Pantai Kuta. Dia tampak antusias.

1

Cantik yah? Dia hampir menangis saat saya berikan baju ini untuknya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

1

Tak ada henna, spidol pun jadi

Selain mereka berdua, ada seorang lelaki muda berusia 20an tahun, Indra. Salah satu tugasnya yang saya tahu adalah, selain menjaga keamanan bungalow, menghidup-matikan genset.

Mereka bertigalah yang sehari-hari tinggal dan bekerja di bungalow Pulau Palambak. Pemilik bungalow tersebut adalah seorang WN Australia, Pak Richard. Beliau mengunjungi pulau seminggu sekali untuk memeriksa kebutuhan di bungalow. Ketika mengetahui ia adalah pemilik pulau tersebut, terlintas pertanyaan, “bukankah orang asing tidak boleh membeli pulau di Indonesia?” Ya, memang benar demikian. Pertanyaan langsung terjawab ketika mengetahui bahwa ia menikahi perempuan Aceh, dan membeli tanah atas nama istrinya. Saat di sana, kebetulan sekali sang pemilik sedang berkunjung, lalu saya dan seorang teman, Syukron, diajak melihat pulau lain yang akan ia beli. Jangan tanyakan harganya, nanti kamu akan tercengang sendiri. Setelah melihat pulau tersebut, lalu kami diajak ke Pulau Balai, untuk membeli berbagai kebutuhan di Pulau Palambak. Oh iya, Bahasa Indonesia Pak Richard sudah lancar loh. Saat tiba hari untuk kembali ke Kota Singkil, Pak Richard sendirilah yang mengendarai speedboat yang kami sewa.

 OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dua tahun sudah berlalu. Apa kabar mereka sekarang yah?

Wanted: Coipan!

Saya join group “Aneka Resep Kue dan Masakan Enak” di Facebook, dan tiba-tiba ada salah satu member posting foto ini!

WP_20140718_001

Coipan! Seketika menelan ludah di tenggorokan. Kepengen icip. Langsung googling info cemilan yang berasal dari Pontianak ini, mulai dari lokasi penjualan di sekitar Jakarta dan resepnya. Ternyata agak susah mencari penjualnya.

Akhirnya dapat jawaban setelah ada bantuan Retweet dari @KaskusOANC

1

Langsunglah meluncur ke sana bareng si Daun sepulang kerja. Muter-muter dan akhirnya ketemu! Senangnya bukan kepalang. Tetapi pas mau pesan, si penjual bilang coipannya tidak halal karena memakai minyak Piglet. Karena sang penjual tau saya sedang kepengen banget, dia bersedia membuatkan 10 biji yang halal, tapi ingin nangis rasanya, karena saya ingin makan saat itu juga. Pun, saya ragu dengan alat masaknya jika tetap memesan dengan penjual tersebut.

Keliling lagi cari-cari dan engga ada hasil, akhirnya saya putuskan pulang. Dalam perjalanan, baca spanduk ada yang menjual “sop janda” di daerah Limo, penasaran, dan akhirnya icip si janda. Enak juga!

 Dapat info dari Suci, di Stasiun Duri ada penjual coipan. Daun pun langsung menghubungi emaknya untuk titip beli di sana. Daun menanyakan juga ke teman-temannya, lopyupul deh! Haha

Keesokan paginya, adik ipar kirim bbm kalau coipan sudah dibelikan di Asemka. Ah senangnya! Langsunglah si coipan diantar ke rumah. Rasanya enak dan unik! Seperti pempek tapi isi bengkoang, dengan sambal seperti kuah asinan. Satu kotak isi lima, seharga 5.500. Dan saya dibelikan 2 kotak. Terima kasih!

WP_20140816_004

WP_20140816_007

Begini toh rasanya ngidam… haha!

Delapan Minggu – Raspberry yang Menggoda

Menurut pregnant.thebump.com, panjang embrio di usia kehamilan 8 minggu adalah 0,63 inci, seperti buah raspberry.

1

Si Baby Raspberry sudah mulai menggerakkan tangan dan kakinya. Walaupun saya belum bisa merasakan gerakannya, tapi sekarang saya sedang membayangkan dia sedang menari-nari di dalam kantung rahim, diiringi “Dancing Queen” yang sedang saya dengar sekarang.

1

Mual-mual? Masiiiih, tp tidak sesering minggu-minggu awal kehamilan, dan mungkin juga karena pengaruh vitamin yang diberikan oleh dokter, Anvomer B6. Kondisi badan masih lemas dan gampang ngantuk.

Emosi? Naik turun seperti roller coaster. Sabar-sabarlah Daun, menghadapi istrimu yang bisa saja tiba-tiba nangis sesegukan, a Drama Queen is on her stage now! Haha…

Food craving? Nothing special, except dimsum di Kelapa Gading, dekat rumah Bena. Pengennya tiap hari makan tuh dimsum plus cekernya.

Something dislike? Masih ga suka dengan parfum Daun, yang padahal biasanya bisa bikin saya klepek-klepek tiap membaui dia.

aah… Sebulan itu lama banget ya untuk periksa-periksa, dan masih tersisa 3 mingguan untuk ketemu dengan dokter. Rasanya kalo bisa, pengen tiap minggu liat perkembangannya. Haha….

 

Detak Pertama di Minggu Ke-Tujuh

18 Juli 2014. Dua garis di waktu sahur, garis jelas dan samar.

Kesamaran yang membuat ragu apa benar saya hamil. Saya pun langsung menunjukkan si Test Pack ajaib ke Emak. Beliau hanya menangis. Bahagia. Sementara saya masih bengong tak percaya.

Hari itu juga saya langsung konsultasi dengan Dokter Helmina, di RS Islam Jakarta. Dokter menyatakan “suspect hamil” karena little embryo belum berani nongol. Saya? Masih bengong. Menunggu konsultasi berikutnya dalam 2 minggu.

Sesuai anjuran Wulan, saya pun coba tes kembali dengan test pack 4-5 hari setelah tes pertama. Hasilnya? Dua garis tebal dan jelas.

5 Agustus 2014. Detak di monitor.

Little fetus sudah tidak malu-malu lagi untuk nongol. Dia eksis. Bahkan terlihat detaknya.

“Sudah 7 minggu,” kata si dokter.

Saya dan Daun pun bengong berjama’ah. Unbelievable. Alhamdulillah.

 

WP_20140718_001

“see you next month, my lil’ fetus,”

– Bunbun & Papap yang lagi sumringah

 

Luntang-Lantung di Pulau Tidung

Pulau tidung adalah salah satu pulau dari kepulauan seribu yang belakangan sudah mulai terkenal di kalangan para pelancong baik lokal maupun mancanegara. Hal ini juga yang membuat saya tertarik untuk menengok sang pulau.

Entah dari mana asal muasal kata Tidung muncul. Ada yang bilang Tidung adalah singkatan dari “Timpat berlinDUNG” saat zaman penjajahan dulu. Dunno whether it’s true or not, tapi bagi saya, ini memang tempat berlindung sekaligus tempat pelarian yang pas dari segala macam kejenuhan aktivitas sehari-hari.

Saya berangkat ke Tidung ditemani 19 orang teman yang beberapa darinya baru saya kenal saat berangkat ke sana. It is so fun, travelling with people who don’t know each other before, then gathering in an unknown place, and sharing experience, cost, and even beds although you don’t know them very well.

12 Juni 2010

Berangkat dari Kemang menuju Terminal Blok M jam 5.30 bareng Astri & Nida (Bandung’ers) ketemu Ageng & Angga (Bintaro’ers). Setelah itu kami langsung meluncur ke Muara Angke naik taksi. Sementara yang lain, janjian di Stasiun Kota untuk berangkat bersama, dan di pagi inilah, keriwehan dimulai. Ada yang salah naik kereta, ada yang masih nyangkut di Depok bahkan ada yang tiba2 kena sindrom “penyakit beser”. Setelah harap-harap cemas nunggu anak2, akhirnya semua ngumpul tepat waktu, jam 7.

Kedatangan kami di Muara Angke udah disambut oleh Wahyu (anak si pemilik penginapan, Ibu Susi), dan sekitar jam 8 berangkatlah kami naik kapal Intan (milik Ibu Susi sendiri, kalau ojek kapal umum berangkat jam 7 pagi).

1

Pukul 11.15, kami tiba di Tidung, lalu langsung diantar ke rumah penduduk yang beralih fungsi menjadi penginapan. Menurut saya rumahnya cukup nyaman, ada 3 bedrooms, 1 bathroom & 1 toilet. Oh iya, satu fasilitas yang langsung diserbu anak-anak adalah: KULKAS, karena di dalamnya ada agar-agar yang membuat tenggorokan segar di panasnya cuaca Tidung. Dengan sadisnya kami melahap agar-agar tersebut, yang ternyata tidak gratis.

1

Sekitar jam 1 kami berangkat snorkeling ke Pulau Payung dan Karang Beras. Spot snorkeling di kedua pulau tersebut bagus banget! Puas snorkeling, sekitar jam 6 kami kembali ke penginapan untuk berleha-leha sambil bakar jagung di area dekat Jembatan Cinta. Jembatan ini adalah penghubung antara Tidung Besar dan Tidung Kecil. Dan Jembatan ini yang membuat saya in love with Tidung, tiduran di jembatan sambil mengamati bintang. Whadda great moment!

1

 


13 Juni 2010

Minggu pagi, kami sibuk dengan acara masing-masing. Foto-foto, snorkeling lagi di sekitaran Tidung, bahkan melakukan lompat indah dari Jembatan Cinta, dan lain kali saya harus mencobanya kalau kembali lagi ke pulau ini.

budget

"nelayan sedang mencari bulu babi"

“nelayan sedang mencari bulu babi”

Sekitar pukul 13.00 kami siap-siap kembali ke daratan dianter kapal Intan. Dan akhirnya, sampai juga di Muara Angke pukul 16.30. Agak lama, karena sempat terhambat di awal, di pertigaan jalan, kapal sempat balik lagi ke Tidung, katanya sih karena ada penumpang yang ketinggalan. Setelah di Muara Angke, kami pun berpencar2 sesuai tujuannya masing-masing.

budget

Apa Enaknya Naik Gunung?

“Because it’s there,” jawab George Leigh Mallory, seorang pendaki asal Inggris yang hilang di puncak Everest. Jawaban multitafsir yang digunakan oleh banyak pendaki berdasarkan pengalaman pribadi dan perjalanan spiritualnya saat mendaki.

Sementara dalam buku “… Sekali Lagi”, Soe Hok Gie menjelaskan alasannya naik gunung secara gamblang. 

“kami katakan bahwa kami manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari Hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal akan objeknya. dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung. Melihat alam dan rakyat dari dekat secara wajar dan disamping itu menimbulkan daya tahan fisik yang tinggi.”

Beda lagi dengan Norman Edwin, seorang pendaki legendaris asal Indonesia yang meninggal di Gunung Aconcagua, yang menyatakan bahwa ia memilih naik gunung karena menghargai kehidupan.

Bagi saya sendiri, naik gunung itu tidak enak. 

Tidak akan menemukan tempat pijat atau spa saat kaki sudah mulai pegal berjalan jauh.

Tidak akan menemukan tempat pijat atau spa  profesional saat raga sudah mulai pegal karena berjalan jauh.

Bye bye, kasur empuk.

Bye bye, kasur empuk.

No toilet. "Panggilan alam" yang sebenar-benarnya.

Pipis di balik semak sambil celingak-celinguk. Di mana rasa nyamannya? 

Tidak ada escalator atau lift untuk cepat sampai puncak.

Tidak ada escalator atau lift untuk cepat sampai puncak.

Makan beralaskan trash bag, keroyokan pula. Apa enaknya?

Makan beralaskan trash bag, keroyokan pula. Apa enaknya?

Ya, naik gunung memang tidak enak, sampai kita merasakannya sendiri. Cobalah naik gunung, dan ceritakan kepada saya bagaimana rasanya. 🙂